The Birdwoman's Palate by Laksmi Pamuntjak

The Birdwoman's Palate

In this exhilarating culinary novel, a woman’s road trip through Indonesia becomes a discovery of friendship, self, and other rare delicacies. Aruna is an epidemiologist dedicated to food and avian politics. One is heaven, the other earth. The two passions blend in unexpected ways when Aruna is asked to research a handful of isolated bird flu cases reported across Indonesia. While it’s put a crimp in her aunt’s West Java farm, and made her ...


Details The Birdwoman's Palate

TitleThe Birdwoman's Palate
Author
Release DateFeb 1st, 2018
PublisherAmazonCrossing
LanguageEnglish
GenreFiction, Asian Literature, Indonesian Literature, Abandoned
Rating

Reviews The Birdwoman's Palate

  • Siria
    1970-01-01
    The Birdwoman's Palate has an intriguing premise and for the first couple of chapters I was thinking this would probably be a four star book. It tells the story about Aruna, an Indonesian woman in her mid-thirties who's a bit of a foodie and is working for a government agency during an outbreak of avian flu. As it became clearer that there was no real plot arc or structure to the book, and that the avian flu subplot was an odd McGuffin, I revised...
  • Aya
    1970-01-01
    Nonton video review di sini > https://youtu.be/S4WZCWEO1Yw
  • Biondy
    1970-01-01
    Kalau disuruh menyimpulkan novel ini dalam satu kalimat, saya akan tulis: "Cerita tentang Aruna, seorang wanita yang melakukan wisata kuliner sambil menjalankan tugas kantornya untuk menyelidiki masalah flu burung".Cerita utamanya, seharusnya, tentang Aruna, seorang "ahli wabah" (alias konsultan epidemiologi) yang diutus oleh kantornya yang bekerja sama dengan Direktorat Penanggulangan Wabah dan Pemulihan Prasarana, yang merupakan bagian dari Kem...
  • Darnia
    1970-01-01
    Sudah lama pingin baca ini, murni karena gw pernah baca Amba dan karena buku ini membicarakan tentang traveliner (traveling sambil kuliner). Buku ini...gimana ya....gw sama sekali nggak menyangka bahwa gw bakal disuguhi kasus Avian Flu! Jadi, mbak Aruna --yg bekerja di One World--, bersama Bono dan Nadezhda -- sahabat-sahabatnya--, serta Farish --kolega pada awalnya--, menjelajahi beberapa wilayah di Indonesia dimana terdapat suspect H5N1, yg ane...
  • Audrey
    1970-01-01
    Oh how I very much wanted this book to be better than it was. Note how that doesn't say I didn't enjoy it, because I did, but there's really no denying that it's a hot mess of a novel basically redeemed by lyrical and passionate food writing. As other reviewers have mentioned, trying to tie a culinary road trip around Indonesia with a subplot about avian flu epidemiology and government corruption is weird at best, and never fully gels. At one poi...
  • Nagisa Paramita
    1970-01-01
    Saya pertama kenal dengan Laksmi Pamuntjak karena novel Amba dan saya jatuh cinta jungkir balik dengan Amba, dengan cara menulis Laksmi Pamuntjak melalui Amba. Maka saya tidak tunggu macam-macam ketika novel ini dirilis, langsung saya beli. Terjun dengan penuh keyakinan. Tapi mungkin saya berharap terlalu tinggi atau memang Laksmi Pamuntjak ingin menampilkan sesuatu yang berbeda di novel yang ini. Mungkin juga soal selera. Pertama dengar soal Aru...
  • Diann
    1970-01-01
    1 Star and a DNF designation (Did Not Finish). I was drawn to the story line. I like epidemiological mysteries and I enjoy food writing. It seemed an intriguing combination. I made it through 40% and could not read any more. The writing is good, but drawn out and laborious. There were several chapters that developed characters, which I thought could have been significantly condensed without losing the plot. The author seems to be forcing together...
  • Peter Baran
    1970-01-01
    So my second Read Harder book and I am initially unsure of how to classify it. I think it would like to be literary fiction, and I initially thought it would be a culinary infected thriller about bird flu in Indonesia. It actually is a romance, both of the standard type and one of food - the heroine is a bird expert travelling Indonesia with her stuck up colleague trying to help cure or quarantine the 2011 SARS outbreak. Joining her are her best ...
  • Nhaz Montana
    1970-01-01
    Sampai ke beberapa halaman terakhir masih dibuat bosan saat membaca novel ini, bertahan karena penasaran semacam "serius nih gini doang? duuhh mana deh klimaksnya, mana deh serunya?". lalu kemudian mengendalikan diri sendiri dan meyakinkan bahwa tak semua novel atau tulisan yang masuk best seller harus SERU. di beberapa halaman terakhir mood saya yang sudah kebosanan terselamatkan oleh beberapa quote di buku yang yaah bisalah di-share. yap!! raga...
  • Paskalis Damar
    1970-01-01
    I read ‘Aruna & Lidahnya’ in anticipation to the upcoming movie directed by one of the finest Indonesian directors. I had the pictures of the characters in my mind and I had known the synopsis a little before going through the book.‘Aruna & Lidahnya’ revolves around a gastronomical journey around the most exotic cities of Indonesia, which goes hand in hand with an expedition to unravel a strange Avian flu epidemic—with a hint of conspir...
  • Wim Van Buitenzorg
    1970-01-01
    Premis sangat menjanjikan. Kemasan menarik. Cerita mengalir. Detail sangat mewah. Kerenlah pokoonya. Cerita tentang dunia kuliner tentu akan membuat lapar pembaca sastra kita. Hanya......Hanya saja, harus ada unsur politik ya dalam karya sastra? Kenapa harus ada isu dlu burung? Memang flu burung menyimpan trauma di meja makan. Tapi sebenarnya kedalaman konflik semua tokohnya sudah sangat sastrawi. Barangkali benar, kalau buku sastra mau dihargai ...
  • Ming
    1970-01-01
    This book was almost a "DNF" (Did Not Finish) for me. The English translation is solid. The tone is snarky, in fact, very snarky, but overly artificial and uncomfortable. Flippant but not witty. (Was the author or the translator trying to do a poor imitation of Carrie Bradshaw or Samantha Jones from "Sex in the City"?) Aruna, the main character, seems like an adolescent with displaced or misplaced anger.The main reason I read this book and slogge...
  • Ayu Lestari Gusman
    1970-01-01
    Hampir dapat 5 bintang. Tapi menuju halaman akhir, ada yang membuat saya berubah pikiran.
  • Fahri Rasihan
    1970-01-01
    Euforia film Aruna & Lidahnya yang sebentar lagi akan tayang di bioskop membuat saya tertarik untuk membaca novelnya. Sebenarnya saya sudah tahu akan keberadaan novel dengan sampul mangkok ayam ini jauh sebelum filmnya dibuat. Namun pada saat itu belum ada ketertarikan sama sekali untuk membacanya. Dan saya sangat menyesal baru mencicipi buku yang sangat mengenyangkan ini. Ahli wabah, flu unggas, kuliner, dan romansa merupakan bahan baku dari cer...
  • Lisa Mahardika
    1970-01-01
    Ini buku yang sangat ingin aku baca ketika pertama kali terbit. Konsepnya terbilang megah; menggabungkan kekayaan kuliner nusantara, politik, konspirasi. Terlebih profil si penulisnya memang menjanjikan bahwa karya ini enggak bakal kopong--dan memang tidak.Sayangnya, terlalu padat rupanya juga tidak baik. Ambisi untuk membuat karya yang padat rupanya malah bikin ini buku jadi semacam jalinan infodump; belum sempat menghayati satu hal, eh mendadak...
  • Sri
    1970-01-01
    ** spoiler alert **Pertama, Aruna bukanlah tokoh yang gampang disukai. Nyinyirnya luar biasa. Bahkan kepada makanan. Padahal dia mengaku sebagai pecinta makanan. Yang asalnya super nyinyir ke rekan kerjanya lalu tiba-tiba dia bobok bareng gitu aja? Memang wajar ada yang bernama witing tresno jalaran soko kulino, dan juga gething nyanding. Tapi ini prosesnya ga keliatan. Kalau iya Farish cinta, sejak kapan? Kok orang yang dulunya sangat mengganggu...
  • Abiyasha Abiyasha
    1970-01-01
    Saya punya ekspektasi tinggi dengan novel ini mengingat Amba adalah salah satu novel paling luar biasa yang pernah saya baca. Namun, Aruan & Lidahnya terbukti sebagai novel follow-up yang cukup mengecewakan. Premisnya cukup menarik, tapi eksekusinya buat saya kurang rapi. Saya berharap isu flu burung justru dihilangkan dari buku ini dan fokus novelnya adalah perjalanan Aruna beserta Farrish, Nad, dan Bono mengeksplorasi makanan di tiap daerah. Ta...
  • Arfan Putra
    1970-01-01
    Salah satu paragraf yang mana, Laksmi dengan apik menceritakan kegaduhannya saat berada di suatu tempat makan yang ada televisinya dan persis seperti saya yang tidak terlalu suka bola."Pada dasarnya, menurut Nadezhda, obsesi terhadap pertandingan fisik itu hanya melahirkan celotehan tentang olahraga. Dengan kata lain, sesuatu yang dangkal, yang semu, hampir menyerupai parodi obrolan politik: strategi apa yang seharusnya dimainkan oleh tim A atau ...
  • Ardina Rahma
    1970-01-01
    Ini nih efek karena bukunya akan diangkat ke layar lebar dan pemainnya adalah Disas dan Nicsap. Well, Rangga dan Cinta berubah menjadi Bono dan Aruna.Setelah membaca buku ini, saya pribadi merasa pening. Pening kepala. Beneran.Buku ini bercerita dari sudut pandang Aruna yang seorang epidemiolog/ahli wabah. (Saya demen nih sama profesinya Aruna, salah satu profesi yang antimainstream, betul?)Di buku ini kita bakal mengetahui pikiran-pikiran Aruna ...
  • Mandewi
    1970-01-01
    Isu serius yang diangkat adalah upaya menjadikan suatu fenomena sebagai bencana nasional supaya anggaran pemerintah turun untuk ‘menangani’ fenomena tersebut. Tapi isu itu bukan topik utama novel jadi nggak perlu berharap tinggi.Sebagaimana judulnya, novel ini fokusnya ke wisata kuliner (dan beberapa isu menarik soal makanan). Bila berhasil menggeser fokus dari ‘isu serius’ ke kuliner, novel ini akan jadi bacaan yang menyenangkan untukmu....
  • Racysteed
    1970-01-01
    I made it about halfway through this one. It's not terrible but feels like an absentminded conversation between friends or being able to read someone's self-absorbed thoughts. There wasn't enough plot to keep me motivated.
  • Patricia L Kerr
    1970-01-01
    Too much foodSeriously, the characters should weigh 300 pounds with all the food they eat. Got tired reading about it. I had hoped to learn about their culture but they sound more like Americans obsessed with food and sex.
  • Hanny Wulandari Yasin
    1970-01-01
    Unpredict. Cool.
  • Viki Holmes
    1970-01-01
    Laksmi Pamuntjak's trademark lush prose and sparkling dialogue shine in this culinary journey through Indonesia from the perspective of epidemiologist Aruna. It's no surprise that the author of Jakarta's Good Food Guide should produce a novel suffused with the love of intense flavours and dishes, but it is Pamuntjak's discipline as a poet that makes the depictions of her home country so vivid and enticing. A novel to be savoured!
  • Wahyu Novian
    1970-01-01
    Hal yang paling menarik di novel ini (sesuai judulnya) adalah cara Laksmi Pamuntjak menceritakan tentang makanan. Jelas sih, tambahan “gelar” Penulis The Jakarta Good Food Guide di covernya terbukti. Aduhai sekali, bikin air liur menetes dan lapar. Narasi tentang kulinernya, dari makanan (dan warungnya) yang sudah sangat familiar sampai yang namanya saja susah disebutkan pun yang tidak disukai oleh karakter-karakternya, membuat penasaran ingi...
  • Amy Jones
    1970-01-01
    CompellingThe descriptions of food are transporting, especially as someone who has never been to Indonesia. The gradual blossoming of the protagonist simmers through the book and the ending is both a shock and comforting.
  • Happy Dwi Wardhana
    1970-01-01
    Seperti membaca gabungan kolom features di koran Minggu. Tokoh-tokohnya hanya sebatas pemanis rangkaian deskripsi kuliner dari daerah-daerah di Indonesia. Sejatinya, saya suka. Banyak makanan-makanan khas daerah yang baru saya tahu dari novel ini. Nama-nama daerah di dalamnya juga membangkitkan hasrat traveling saya. Andaikata pengemasan ceritanya lebih menarik, akan lebih mengasyikan lagi.
  • Puty
    1970-01-01
    Saya akhirnya penasaran untuk benar-benar membaca buku ini karena akan difilmkan. Saya suka dan tidak kecewa membacanya. Novel ini memenuhi ekspektasi saya karena sesuai sekali. Beginilah kalau seorang Laksmi Pamuntjak menulis novel tentang makanan: realistis namun lezat. Bagi saya, menggambarkan makanan lewat kata-kata sampai kita seperti bisa merasakannya ada di depan mata dan terasa di lidah adalah kejeniusan yang harus diimbangi jam terbang. ...
  • Kristen
    1970-01-01
    I wish I liked this more. Not enough bird flu in the plot. Reading this book was similar to being at a dinner party where everyone speaks another language and you know no one.